Loading...

Minggu, 23 Juni 2013

Sawarna, Surga Tersembunyi di Selatan Banten

Sawarna, desa ini terkenal sebagai Hidden Paradise.

Sebenernya, Sawarna itu nama desa di selatannya Banten, tepatnya di Kec. Bayah, Kab. Lebak. nama pantainya adalah Pantai Ciantir. Pantai Ciantir termasuk ke genk-nya pantai selatan, kaya parang teritis. Jadi jangan berharap dapat pemandangan pantai yang tenang di sini. Pemandangannya itu pantai dengan bibir pantai yang panjaaaang, ombak gede yang bisa dipake untuk surfing. Perlu diingat: ga ada acara snorkeling atau diving di sini!

Gimana caranya ke Sawarna? Ada 2 jalur yang biasa dipake untuk sampe ke Sawarna: via Serang atau via Sukabumi, Pelabuhan Ratu. Yang saya tau cuma yang via Serang. Dari Serang ke Desa Bayah sekitar 5-6 jam, jauuuuuh dan jalannya jelek. Jadi, siapkan pantat dan obat anti mabok.

Di Sawarna banyak tempat penginapan, jangan bayangin cottage atau hotel bintang 5 ya.. Di sini kita bisa nginep di penginepan warga, rata2 bentuknya ky kos2an. Tapi harganya murah, cocok untuk kantong backpacker. Tapi kalo ke sini mending coba hubungi penginepannya dulu, kuatir penuh kalo on the spot.





Padang, 2012

2012, saya ke padang 2 kali, 1 kali untuk sosialisasi beasiswa, 1 kali lagi ada kerjaan dinas dari kantor.
Dua kali ke padang, 2 kali juga saya ke bukittinggi. Yang ulasan ini cuma utk yg wisata di kota Padangnya aja :)

Kalo di dalam kota Padang, destinasi wisatanya itu ga terlalu banyak:
1. Pantai air manis. Pantai ini terkenal karena ada batu malin kundang. Kalo pantainya sih ga menarik, pasirnya coklat ky tanah. daya tariknya cuma batu malin kundang itu..
 2. Jembatan Siti Nurbaya. Nama jembatan ini ga ada hubungan sama sejarah Siti Nurbaya ya. Awalnya saya pikir di jembatan ini Siti Nurbaya bertemu Samsul Bahri dan kemudian jatuh cinta, ternyata bukan. Jembatan ini  sebenernya biasa aja, ga terlalu panjang juga. Daya tariknya cuma kalo malem ada lampu2 hias yang bentuknya bulet2 dan ada penjual jagung bakar sm minuman di atas jembatannya. Orang2 bebas parkir di pinggir2 jembatannya. Lumayan buat ngobrol2 malem2 :D
Jembatan Siti Nurbaya
 3. Pantai padang. Pantai ini juga sbnrnya biasa aja, tp lumayan rame krn banyak penjual2 makanan & banyak rmh makan di pinggir pantainya. Kalo warna pasinya sih gelap & ombaknya lumayan gede, tp msh bisa kl mau berenang di sini tp di pinggir2 saja. Yang bingung ngebilasnya dimana, krn saya ga liat aga tmpt bilasnya. Jadi kalo ke sini mending jajan aja, duduk2 nikmatin angin pantai sambil ngobrol2
Pantai Padang
4. Teluk Bayur. Sebenernya kalo teluk bayur sih bkn tmpt wisata, tp pelabuhan di Kota Padang. Di Padang itu ada tmpt makan gulai kepala kakap yang terkenal, namanya simpang TPI, sepanjang jalan itu juga banyak tmpt makan kepala kakap lain sih. Naaah kalo mau ke TPI, pasti ngelewatin teluk bayur. Jadi sambil menyelam minum es teh. Sambil jalan ke tempat makan, bs liat pemandangan teluk bayur dr atas bukit.
Teluk Bayur Permai

5. Pulai Sikuai. Naaaaah ini yg keren. Pulau ini pulau pribadi, tp bs diakses oleh orang lain yang mau dan mampu bayar, soalnya lumayan mahal. Kalo ga nginep utk sewa kapal 1 org -> 250 rb, dan minimal 3org, jadi kalo berangkat cm 1 atau 2 orang, tetep harus bayar utk 3 org (750rb), harga itu cm utk makan siang dan kapal PP dari dermaga-pulau-dermaga, oia sama welcome drink juga. Utk sewa sepeda atau alat snorkeling akan dikenakan biaya lagi. Kalo mau nginep di sana, 1 org 750 rb utk kapal PP, makan pagi, siang, malam, dan penginapan. Untuk bisa akses ke pulau ini, satu2nya cara yang saya tau hrs melalui manajemen pulau ini, di Dermaga Wisata Bahari di Pelabuhan Muara. Lengkapnya bisa diliat di website mereka di http://www.newsikuai-island.com/  Nyebrang ke pulau sikuai dari dermaga cuma 45 menit, dengan kapal ukuran sedang, cukup untuk 20-an orang kayanya. Naaah nyebrangnya Cuma bisa jam 10 pagi sama jam 2 siang. Kalo ga mau nginep harus pilih yang jam 10. Kalo dari dermaga pulau sikuainya kapal cuma ada jam 11 siang sm jam 4 sore. Yang ga nginep bisa pulang pake kapal yang jam 4 sore itu. Waktu kami ke sana, cuaca lagi ga bagus, jadi kami harus pulang jam 3an. Dan pas berangkat ke pulau pun kami harus nunggu rombongan yang telat dateng, karena rombongan mereka banyak dan kami cm berempat, ya kami harus ngalah dan nunggu mereka. Jadi sbnrnya jam2 ini fleksibel, tergantung cuaca juga. Kadang kalo ga beruntung, ga ada kapal yang ke pulau.
Phi-phi Islannya Indonesia, katanya..
Pantai Sikuai dan Saya :*
Sekian

Kilas balik 2012

Akhirnya, blog ini dpt saya akses lg..

 Banyak hal terlewatkan yg tidak saya tuliskan di blog ini karena selain sibuk, saya jg lupa passwordnya zzzzzz Terakhir tulisan saya di Januari 2012, skrg sdh pertengahan 2013. 1,5 tahun tanpa update apa2. 

Banyak yang terjadi, banyak yg berganti. Setidaknya hal besar terjadi di 2012, saat saya berganti status dari in relationship ke married (gaya facebook) atau status dari belum kawin menjadi kawin (gaya KTP). Akhirnya, saya menikah jg, di umur hampir 29 thn. Menyesal tdk menikah dr dulu? ga juga, biasa aja :p

Persiapan nikah itu bikin senewen krn harus nyambi dengan kerjaan audit. Persiapan bikin senewen, naaaah akad-lah yang bikin deg2an. Deg2an pertama adalah: saat sang kekasih mengucap: saya terima nikahnya blablabla binti blablaba dengan mas kawin blablabla dibayar tunai. Deg2an yang lebih dahsyat itu saat saksi2 mengucap: sah!! saya kuatir ada yang iseng dan blg tidak sah. Kekuatiran yang berlebihan. Tapi Alhamdulillah semua terlewati dengan lancar. Resmilah saya berstatus istri orang pada tanggal 8 September 2012, dengan cincin kawin melingkar di jari manis tangan kanan, walaupun saya jarang pake :D KTP saya juga sudah berganti dari KTP Palembang berstatus perkawinan: belum kawin, menjadi KTP Labuhanbatu Selatan dengan status perkawinan: KAWIN!
Selanjutnya, saya juga berganti status kepegawaian, dari PNS aktif menjadi PNS tugas belajar. Karena kebosanan dengan kerjaan yang bikin stres tingkat tinggi, audit tak berkesudahan, saya memutuskan untuk kabur "cantik" dari kantor, yaitu dengan cari beasiswa, terserah beasiswa apa, yang penting ga ngantor :p iseng2 ikutan tes, tiba2 status saya berubah jadi Mahasiswa Pasca Sarjana di universitas yang terkenal dengan jaket kuningnya itu, dengan jurusan yang tidak linier dengan S1 saya. Saya menjadi mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi :D
Sekarang di sinilah saya, di Jakarta, tetap jadi anak kos, istri jarak jauh, PNS tugas belajar, mahasiswi s2. Sekian

Sabtu, 28 Januari 2012

Sumatera Utara, Tanah Air Awak.

Siregar yang menempel di nama belakang saya itu terlihat aneh karena saya sendiri belum pernah menginjakkan kaki ke tanah Batak. Darah batak mengalir pada sebagian besar pembuluh darah saya (lebaaaay!) tapi saya lahir dan besar di Palembang, fasih berbahasa Palembang, ga bisa bahasa batak sama sekali selain HORAS ;)). Tapi di umur saya yang sedang lucu2nya ini :p akhirnya saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke sana: Sumatera Utara.
Berawal dari pacar saya yang pindah kerja dari Bank Swasta menyebalkan ke BUMN perkebunan yang kebonnya cuma ada di daerah Sumatera Utara, akhirnya saya memutuskan untuk mengunjunginya setelah si pacar sudah 1 tahun lebih tinggal di sana. Januari 2012, saya melihat kalender ada tanggal merah di hari Senin yang bearti bahwa long wikeeeen!! yihaaaa!! Sebenarnya awalnya saya msh belum yakin bisa ke sana karena gosipnya saya harus melanjutkan tugas pemeriksaan pada pertengahan Januari, untunglah itu hanya gosip. Setelah yakin bahwa surat tugas baru akan keluar awal Februari, saya mulai berburu tiket Jakarta-Medan. Jumat 20/1/2012 saya berangkat ke Medan dengan penerbangan bergambar singa yang sangat terkenal dengan delaynya (tentu saya ini saya pilih karena tiketnya lebih murah :p).

Pesawat take off dari Soekarno Hatta jam 9, tanpa delay!! tumben sodara2!! Sampe di Medan jam 11 lewat dikit, saya langsung ke Stasiun Besar Medan, karena harus melanjutkan perjalanan ke Aeknabara (sebagian besar kalian pasti belum pernah denger nama daerah ini, saya aja baru tau dari si pacar). Kereta Api ga ada ke Aeknabara, tapi ke Rantauprapat, si pacar jemput saya di stasiun rantau prapat untuk menuju ke Aeknabara. Medan - Rantau Prapat naek kereta api memakan waktu 6 jam perjalanan. Perjalanan dari stasiun ke Aeknabara sekitar 30 menit melewati kebon sawit & kebon karet punya perusahaan tmpt si pacar kerja sekarang.

Di Aeknabara saya nginep di rumah teman kerja pacar saya, ibu2 40 tahunan yang tinggal dengan ibunya, saya manggilnya ibunya si ibu: Opung. Si Opung ga bisa bahasa indonesia, saya ga bisa bahasa batak. Pas Bu Wati pergi kerja, saya ditinggal berdua dengan si opung, dan bingunglah saya mau ngobrol apa karena terkendala bahasa. zzzzzz
Pinggiran Danau Toba
Sudah jauh2 ke Sumatera Utara, saya pengen sekali ke Danau Toba, si pacar menyanggupi. Ternyata Danau Toba jauuuuuh, dari Aeknabara 7 jam, kalo dari medan sekitar 6 jam. Ak sm pacar naik kendaraan umum tanpa AC pula! Hadeeeeeeh.. Tapi gapapalah yang penting nyampe Danau Toba. Danau toba cukup indah, walau ga seindah bayangan saya hehehe ekspektasi saya terlalu tinggi mungkin.

Perahu Wisata Danau Toba
Batu Gantung?
Turun dari angkutan umum, berjalan dikit, sampailah saya ke tepian danau toba. Dalam hati saya: oooh init oh danau toba. Selanjutnya saya bingung mau ngapain, saya ga berencana berenang di sini, si pacar juga kebingungan (padahal dia sudah pernah ke sini *nyilangintangandidepandada). Untungnya ada abang2 yang nawarin untuk nyebrang ke Pulau Samosir. Naek kapal berukuran sedang dengan cukup membayar 20rb/org untuk perjalanan pulang pergi, kami berpesiar menyebrangi Danau Toba.
Di perjalanan ke sana, kapal dengan sengaja memutar ke pinggiran untuk menunjukkan batu gantung yang katanya sih terkenal. Tapi yang saya bingung, batu gantung yang dimaksud ternyata cuma 2 stalaktit kecil yang menggantung di batu. Okelah, terserahlah ya.
Anak-anak, sampan, danau
Tepian Tomok
Rumah adat Batak
Museumnya Orang Batak
Setelah sekitar 30 menit perjalanan, tibalah saya di Pulau Samosir, tepatmya di Tomok. Tomok rameeeee, mungkin karena hari libur, sepanjang jalan banyak kios2 penjual souvenir. Di Tomok ada tempat2 yang cukup menarik untuk dikunjungi, ada makan Raja Sidabutar, Museum Batak, dan Rumah Batak (setidaknya itu yang sempat saya kunjungi. Foto sana foto sini walopun Cuma pake kamera hape yang ga seberapa tapi saya piker cukuplah untuk sekedar dokumentasi, bukti bahwa saya pernah ke Pulau Samosir yang terkenal itu :D. Sudah tengah hari, kami harus cepat pulang, kami ga mau terlalu sore dari sana, karena kami harus ke Medan yang akan memakan waktu 5 jam perjalanan dari Danau Toba.

Medan, hari terakhir di Sumatera Utara. Saya pengen keliling kota Medan, mengunjungi tempat2 wisata di Kota Medan. Hasil ngobrol dengan bapak2 yang duduk sebelahan di pesawat, saya tau kalo di Medan ada Istana Maimun di tengah kota Medan, tepatnya di Jalam Brigjend Katamso. Istana Maimun cukup bagus, ga terlalu besar tapi seperti bangunan bersejarah lainnya di Indonesia, istana ini kurang terawat. Warna istana ini dominan kuning, singgasananya juga berwarna kuning. Istana MAimun didirikan oleh Sultan Kerajaan Deli, Sultan MAkmun Rasyid Perkasa Alamsyah pada 1888. Guide istana maimun menjelaskan bahwa sultan terakhir sekarang baru berusia 15 tahun, dia menjadi sultan saat usianya masih 8 tahun, dia mewarisi ayahnya yang meninggal karena kecelakaan pesawat saat kembali dari Aceh setelah menjadi relawan yang membantu korban Tsunami Aceh tahun 2005. Sultan muda itu sekarang tinggal dengan ibunya di Makassar. Menurut informasi dari guide itu, kakek dari sebelah ibunya sultan adalah mantan Gubernur Sulsel (ga tau deh ini bener atau ga).
Istana Maimun

Setelah selesai foto2 dan melihat2 sekitar istana, kami mau ke Masjid Raya Medan, yang ternyata berdekatan dengan istana maimun, cukup dengan berjalan kaki 200m saja sampailah kami di MAsjid tersebut. MAsjid ini didirikan pada 1906 oleh Sultan Deli , dan digunakan pertama kali tanggal 19 September 1909. Tampak luar, bangunan masjid ini bagus, terawat dan bersih. Selain kami, masih ada beberapa turis local dan bule yang berkunjung ke sini. Turis yang sama yang kami ketemu di istana maimun.
Masjid Raya Medan


Perjalanan selanjutnya kami menuju ke LApangan Merdeka. Salah satu bagian dari Lapangan (bagian yang berhadapan dengan stasiun Besar Medan) sudah disulap para investor menjadi pusat makanan, foodcourt, tempat anak gaulnya Medan nongkrong: Merdeka Walk. Rencananya kami mau makan siang di sini, ternyata eh ternyata Merdeka Walk baru buka sore hari, atau kami yang dateng kepagian yak?
Begitulah cerita yang saya rasa cukup, walopun kurang detail karena mood menulis saya tiba2 hilang mungkin karena ngantuk, mungkin juga karena malas. Sekian dulu ya.

Terima KAsih

Selasa, 25 Oktober 2011

Session 2 : Krakatau – Pulau Peucang – Ujung Kulon


Pulau Peucang, Sisi Lain Ujung Kulon

Saatnya saya melanjutkan cerita hari kedua dari rangkaian kegiatan trip kami yang memakan waktu 3 hari 2 malam.

Hari pertama telah kami lalui dengan mengunjungi Anak Krakatau dan snorkeling yang gagal di Legon Cabe. Malam di hari pertama kami menginap di wisma badak, saya tidur nyenyak karena capek. Fyi, karena tim kami terdiri dari 3 cewek dan 3 cowok, Pak Edi menyediakan 2 kamar yang saling berhadapan. Kamarnya sederhana tapi cukup bersih, ga ada AC tapi ada kipas angin, dengan bed yang gede dan kamar mandi yang pake shower.

Pagi-pagi kami bangun kami terus mandi, tidak lupa menggosok gigi, habis mandi ga tolong ibu (jayus). Pak Edi menyediakan sarapan pagi lengkap dengan teh manis hangat, buru-buru kami menghabiskan sarapan. Selesai sarapan, kami berjalan kaki ke dermaga yang jaraknya ga terlalu jauh, cukup 15 menit berjalan kami dari wisma Badak. Di dermaga, perahu kecil sudah menunggu kami, dari perahu kecil itu kami pindah ke Kapal motor yang berukuran cukup besar. Mulailah pelayaran kami sekitar jam 9.

Perjalanan ke Peucang memakan waktu sekitar 3-4 jam, hari itu cuaca cukup panas. Setelah 1 jam perjalanan, kapal motor berhenti di pulau pasir sangat kecil yang kata Pak Edi adalah spot yang bagus untuk snorkeling. Nyeburlah kami ke laut, tapi menurutku sih ga terlalu bagus. Airnya terlalu dalam, dan karangnya sudah banyak yang mati. Kami Cuma sebentar snorkeling di situ, langsung naik ke kapal lagi dan perjalanan diteruskan.

Perut mulai lapar karen hari mulai beranjak siang, petugas di kapal mulai masak di atas kapal, makan siang yang lezat disajikan! Nasi + sambal + ikan laut langsung kami santap. Setelah cukup lama berlayar, sampailah kami di Pulau Peucang. Pulau kecil berpasir putih dengan luas hanya ±3 hektar ini berada dalam wilayah kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, tepatnya di selat Panaitan atau sebelah timur Taman Nasional Ujung Kulon. Peucang diambil dari nama sejenis siput yang sering ditemukan di pantainya. Penduduk setempat biasa menyebutnya "mata peucang". Peucang juga adalah istilah dalam Bahasa Sunda untuk menyebut kancil. (sumber: wikipedia.org)

Kapal mulai merapat di dermaga yang berada di bagian selatan pulau, kami terkagum-kagum dengan pemandangan yang sangat indah, ribuan ikan kecil bergerombol terlihat jelas dari atas dermaga. Bagian selatan pulau ini tidak langsung menghadap ke samudera lepas sehingga pantainya tidak berombak, sangat tenang, pasirnya yang putih dan lembut sehalus tepung tanpa kerikil sedikit pun dengan laut hijau muda kebiru-biruan yang landai sehingga aman untuk berenang. Saya dan teman-teman ga sabar untuk segera main di pantai.

Kami berjalan ke penginapan yang terletak tidak jauh dari dermaga, kami terkaget-kaget melihat kumpulan binatang seperti babi hutan, monyet, biawak, dan rusa yang bebas berkeliaran di pulau ini. Binatang-binatang itu ga takut dengan kami, bahkan seperti dengan sengaja berpose pas kami mau moto. Pak Edi pesen: hati-hati dengan barang bawaan, jangan lengah dan jangan taruh barang-barang di luar kamar karena monyet-monyet liar biasanya suka ngobrak-ngabrik dan ngambil barang. Serem juga.






Setelah naruh barang di penginapan dan sedikit foto-foto, kami segera ke pinggir pantai, Pak Edi nunjukin spot yang bagus untuk snorkeling di pinggir pantai. Sibuklah kami nyempung ke air. Snorkeling emang ga boleh dilewatin, terumbu karang di pinggir pantainya indah banget, ikan-ikan karang beragam warna bikin kami betah berlama-lama snorkeling. Sebelum bosen snorkeling, kami udah dipanggil Pak Edi untuk segera balik ke penginapan, karena kami mau ke Karang Copong. Okelah walaupun belum puas, kami tetep nurut deh pak hehehhehe.

Di utara pulau ini terdapat karang mati besar yang berlubang (copong) makanya dinamain Karang Copong. Perjalanan menuju Karang Copong harus ditempuh dengan trekking sejauh 3 km atau selama ±1 jam melewati hutan. Bagian ini adalah spot terbaik di pulau ini untuk melihat sunset. Berbeda dengan bagian pantai di dekat dermaga yang tenang, bagian utara merupakan bagian yang berhadapan langsung dengan laut lepas sehingga pantainya berombak dan berangin cukup ganas dan keras. Selain itu, banyak terdapat bebatuan unik di sepanjang pesisir pantai.

Setelah berbilas, kami bersiap untuk jalan melewati hutan, hari sudah mulai sore, kami berharap kami bisa nyampe karang copong sebelum sunset. Ini pertama kalinya saya masuk hutan, dan saya ga pake sepatu, tapi sendal jepit yang lebih cocok untuk maen di Mall :p Untungnya medannya ga terlalu susah, jalannya landai dan ga banyak rintangan dan halangan, tapi capek euy, keringetan karena ga biasa jalan jauh. Di hutan ini, banyak rusa dan babi hutan, bahkan kami ngeliat ada burung merak. Ini pertama kalinya saya liat burung merak dari jarak dekat di alam bebas, bukan di kebon binatang. Setelah hampir 1 jam berjalan, akhirnya sampelah kami ke pinggiran pantai sebelah utara. Ternyata untuk bisa ngeliat karang copong, kami harus naek tangga. Okelah gapapa deh, sekali-sekali ini.

Dari ketinggian kami bisa liat karang copong yang berada agak ke tengah laut, sibuklah kami foto-foto, jepret kanan jepret kiri. Setelah puas foto-foto, kami kembali ke pinggir pantai untuk nunggu sunset. Sunset ga terlalu sukses, karena pas matahari udah deket horizon, tiba-tiba awan menutupi, ga syahdu ah! Matahari tenggelam, saatnya kami balik ke penginapan. Ngelewatin hutan saat hari gelap emang menyeramkan, makanya harus bawa senter. Untunglah guide kami sudah berpengalaman, ga nyasar deh, sampe di penginepan dengan selamat dan kaki pegel2. Rasanya pengen mandi lagi, tapi apa daya air terbatas.


Malam ini rencananya kami mau mancing, bukan di tepi pantai, tapi dari atas kapal, kaya mancing mania gitu, tapi ga ada yang bawa alat pancing. Alhasil kami harus mancing dengan peralatan seadanya, Cuma benang pancing, kail, dan umpan seadanya. Jangan berharap banyak, ga ada 1 ikan pun yang nyangkut di kail. Walaupun ga dapet ikan, tapi kami dapet pemandangan luar biasa: hamparan bintang yang bertaburan menghiasi langit Peucang. Kereeeeen banget! Sayangnya ga ada yang punya lensa tele, jadi kenangannya Cuma ada di memori otak, ga bisa dicetak di fuji film --“

Selama berada di pulau ini, kita tidak dapat berhubungan dengan dunia luar, jangan berharap untuk bisa ngetwit atau update status, menelepon aja ga bisa. Satu-satunya alat komunikasi yang bisa dipake Cuma telepon di pos jaga. Listrik juga baru ada setelah malam hingga sampe pagi (sekitar pukul 18.00 – 06.00).

Tips-tips:
1. Jangan lupa bawa senter kalo berencana untuk trekking masuk hutan
2. Bawa sepatu kalo ga mau kaki lecet-lecet pas trekking
3. Bawa peralatan snorkeling sendiri lebih menyenangkan
4. Bawa banyak air minum karena ga ada yang jualan air minum di pulau ini

Selasa, 11 Oktober 2011

Session 1: Krakatau – Pulau Peucang – Ujung Kulon, Banten eksplore



Awal Juni 2011 ada tanggal merah, tepatnya di hari kamis tanggal 2, pemerintah menetapkan jumat tgl 3nya cuti bersama. Itungan pegawai, libur 4 hari itu kan libur panjang, maka jauh2 hari sebelumnya kami sdh merencanakan liburan & jalan-jalan lagi di Banten. Tujuan jalan-jalan kami kali ini adalah daerah paling barat banten, berada di kabupaten pandeglang & sangat terkenal. Siapa yang ga tau Krakatau dan Ujung Kulon pasti pengetahuan umumnya parah bgt atau ga pernah makan bangku sekolah (ngapain bangku sekolah dimakan, bangku mah didudukin yak). Krakatau itu gunung berapi aktif yang sempat meletus dengan dasyat tahun 1883 sampai memisahkan pulau jawa & pulau sumatera. Letusan itu pun menghancurkan gunung itu sendiri sehingga skrg yg tersisa di selat sunda cuma anak krakatau (dapet info dari wikipedia nih). Nah anak krakatau yg terkenal itu jadi salah satu tujuan wisata kami kali ini.

Wisata kali ini kami ga ngurus sendiri, melainkan mempercayakannya ke Pak Edi (yang punya wisma sarang badak di desa sumur pandeglang, baca postingan saya sebelumnya Pulau Umang & Pulau Oar - Perjalanan Tanpa Rencana). Pak Edi menawarkan paket perjalanan wisata 3 hari 2 malam dengan tujuan wisata: Anak Krakatau, Pulau Peucang, dan Ujung Kulon dengan harga yang lumayan murah lah, ga nyampe 1 jt penginepan, makan & snack ditanggung, malah kami dianter jemput dari kantor ke tempat tujuan.

Ini itenerary yang dikirim oleh Pak Edi via email ke Keke dan kemudian di forward ke temen2:

berikut jadwal alternatif, Biaya unutk 7 orang Rp. 980.000/ orang
D1 : Carita - Krakatau
kita bertemu dermaga Carita Lippo jam 6 pagi, makan pagi dilanjutkan perkenalan, breafing dan penjelasan trip. dengan speed boat akan menuju krakatau 2 jam. jam 10 siang visit legon cabe, snorkling, jam 11:00 mendarat di anak krakatau setelah boat mengelilingi anak karakatau dari berbagai arah, persiapan mendaki (jika ada izin) lunch box on the boat, menikmati suasana krakatau yang mesteri, pemandangan sangat indah dari atas menjelang sore. kembali turun 1:30 boat akan mengantar kembali pulang menuju carita, dengan mobil carteran / suzuki APV melanjutkan perjalanan ke Sumur. chek in di Wisma Sarang Badak, rest overnite (B+L+D)

D2 : Sumur - Ujungkulon
hari ini boat akan mengarungi selat sunda menuju pulau peucang, pagi sekali sangat bagus biasanya sering terlihat nelayan lokal, bagi yang suka mancing bisa bawa alat untuk troliiiiing menangkap ikan besar.kami sediakan minuman dan makanan lokal selama diatas boat.
jam 11:00 sampai di pulau peucang. langsung chek in kamar.sambil nunggu makan siang acara bebas, berenang, snorkling sekitar peucang. bisa dilhat rusa babi hutan, monyet, biawak besar dan beberapa burung sekitar penginapan. hati 2 dengan monyet.....
jam 2 :30 tour Cidaon Grazing ground melihat sekumpulan banteng. merak sedang merumput, di lanjutkan treking di hutan primer 5 km menuju karang copong, sambil nikmatin Sunset. jam 6:00 kembli ke penginapan, makan malam dipantai, api unggun, bakar ikan.
tidur di kamar bivak 7 orang / kamar. (B+L+D)

D3 : Ujungkulon - Sumur
pagi ini kita sebelum meninggalkan ujungkulon kita mengunjungi dulu marcusuar tua dengan boat menuju Cibom dan dilanjutkan treking 1 km menuju tanjung layar, menukmati pemandangan yang indah di tanjung layar, dilanjutkan snorkling di cihandarusa. jam 11:30 chek out boat berangkat menuju sumur makan siang on the boat, pulau badul tempat sangat bagus untuk snorkling kita mampir dulu, sebelum ke sumur. jam 3 sore sampai di sumur. tour selesai.
- cibom history
- visit tanjung layar old light house
- snorkling at cihandarusa
- snorkling at badul island
sampai di sumur sore hari, peserta dapat menginap lagi di sumur atau meneruskan perjalanan ke jakarta .tour selesai.


harga sudah termasuk/all in : boat charter, bivak di peucang, full board meals, air mineral, kopi, teh, buah2an
guide, dermaga, tenda sederhana, izin masuk, tour lokal, snorkling equipmant.



Trip kali ini kami bertujuh: aku, keke, ayu, mbak yanti, miko, mas tom, & bowo, padahal awalnya banyak nih yang mau ikutan, tp karena sesuatu & lain hal yang lain ga jadi . Diantara kami bertujuh cuma mas tom sendiri yang dah nikah, & waktu itu istrinya lagi hamil gede hehehehhe menurut cerita gara-gara trip ini, istri mas tom ngambek :p maaf ya mbak, kami ga bermaksud apa-apa ;)).

Sepertinya pembukaan ceritanya sudah panjang nih, kita mulai aja cerita intinya. Rabu malem kami nginep rame-rame di kantor karena kamis sebelum subuh pak edi sudah jemput kami di kantor. Dengan muka ngantuk karena ga biasa bangun jam 4 subuh, kami berangkat naek APV yang disetirin sama Pak Edi. Di Pandeglang kami berenti dulu, solat subuh baru ngelanjutin perjalanan. Tujuan pertama kami adalah ke anak krakatau, mobil berenti di daerah yang saya lupa namanya, tp kayanya sih di deket-deket carita. Di sana kami sudah disambut oleh temennya Pak Edi yang nyewain boat untuk ke Anak Krakatau. Setelah berdoa kami naek ke boat, di boat sudah disediain sarapan, kebeneran banget kami emg sdh laper.


Anak Krakatau mulai keliatan setelah 2 jam lebih perjalanan, sekitar 3 jam perjalanan kami baru bersandar di gunung berapi yang terkenal itu. Pasir di anak krakatau beda dengan pasir di pantai yang pernah saya datangi sebelumnya, pasir di sana hitam mungkin karena abu vulkanik yang keluar dari letusannya. Di anak krakatau kami bertemu dengan bapak-bapak yang jaga di sana, foto-foto bentar trus mulai mendaki ke puncak anak krakatau. Walaupun tidak terlalu terjal tapi untuk ukuran saya yang ga pernah naek gunung jalan kaki, pendakian ini bikin saya lumayan capek. Mulai mendekati puncak anak krakatau udah ga ada pohon lagi cuma ada pasir aja. Saya yang berlemak sangat sedikit mulai kecapek`an, si Bowo yang semangat banget jalan duluan, mungkin pengen nunjukin kejantanannya sama gebetannya (baca: Keke) hahahahaha. Pas udah mau nyampe puncak tiba-tiba saya kaget pas ngeliat ada asep tiba2 mengepul di puncak gunung, reflek saya teriak “ada wedhus gembel”, yang laen kaget & semua termasuk Pak Edi ikutan lari turun gunung. Beberapa saat kemudian, asapnya udah mulai biasa lagi, ga sebanyak tadi. Waktu keadaan mulai tenang, kami duduk2 dibawah pohon dan heboh nyeritain pengalaman luar biasa tadi hihihiihihi. Setelah lari tunggang langgang gara2 wedhus gembel tadi, kami ga ngelanjutin pendakian ampe ke puncak anak krakatau, capek woi!







Setelah dari anak krakatau, kami ngelanjutin perjalanan ke spot untuk snorkeling, namanya Legon Cabe. Perjalanan ke Legon Cabe ga semulus perjalanan ke Anak Krakatau, ombaknya gede, bikin boat kami goyang2 dahsyat ampe bikin mabok laut, pusing banget. Nyampe di legon cabe, ombak tetep ga bersahabat, daripada mabok di kapal, saya sih lompat ke laut, keke yang pertama lompat, mas tom, bowo dan miko ikutan lompat, ayu & mbak yanti milih tetep di boat. Tapi dengan ombak segede itu ternyata snorkeling ga enak, kami terombang-ambing keseret ombak. Saya paling takut kena karang, bikin luka2 dan perih. Akhirnya kami naek lagi ke boat dan meminta untuk merapat ke pulau terdekat, namanya pulau panjang.

Di Pulau Panjang, kami istirahat dan mencoba menenangkan perut yang mual2 karena mabok laut. Pak Edi menurunkan makan siang dari boat, kami makan siang di sana. Tiba-tiba muncullah makhluk2 yang menyeramkan, kadal gede alias biawak. Para biawak mendekati kami mungkin karena mencium bau makanan, bukan bau kami loh maksudnya, tapi bau makan siang kami. Ada lebih dari 5 biawak mendekat ke arah makanan, yang bawa kamera sibuk foto2 kejadian langka itu. Pulau Panjang adalah pulau yang ga ada penduduk, penghuninya ya biawak2, burung2, dan mungkin binatang2 lain yang ga menunjukkan wajahnya dihadapan kami.


Setelah makan siang dan berenang-berenang di pantai Pulau Panjang, kami harus meninggalkan pulau sebelum hari terlalu sore. Kami menuju ke tempat semula, mengembalikan boat dan meneruskan perjalanan darat ke Penginapan di Desa Sumur. Perjalanan darat dari Carita ke Desa Sumur ditempuh dalam waktu 2 jam. Kami sampai ke villa Sarang Badak, punya Pak Edi sebelum maghrib. Kami mandi, makan malam, ngobrol, kemudian istirahat, bersiap2 untuk trip hari berikutnya: Pulau Peucang.

Bersambung .....

Kamis, 28 Juli 2011

Pulau Umang & Pulau Oar - Perjalanan Tanpa Rencana



Akhir Februari 2011, Jumat malem awal pindah ke Serang, aku sm ika (temen sekantor sekaligus temen sekost) makan bakso di deket Bank Indonesia, daerah Benggala, sekitar alun2 Serang... Sambil ngobrol tiba2 aku bilang "ke Pulau Umang yok besok!" ika bilang "ya udah", trus kami telpon si Keke (temen sekamar) ngajakin dia.. Dia jg oke2 aja.. Rencananya kami mau naek angkutan umum ke Pulau Umang, dapet info dr orang Pemkot Serang kalo ada angkutan umum ke sana, naek Elf jurusan ke Cibaliung atau Sumur..

Pagi2 kami bkrt krn katanya perjalanannya jauh, 4-5 jam dr Serang.. Rencananya ga nginep, cuma liat2 doang trus pulang. Mobil kutarok di kantor, trus kami beli camilan di Alfa Mart deket kantor sambil nungguin si Elf. GA lama nunggu, akhirnya kami dpt tuh angkutan, dengan senang hati kami naek.. Ongkosnya 30rb sampe Desa Sumur.


Di Elf kami baru tau kalo ga ada angkutan ke Serang setelah jam 1 siang, krn Damri dan Elf ke Serang terakhir jam 1... Bearti tanpa rencana, kami harus nginep di sana, untung bawa baju ganti.

Desa sumur ternyata jauuuuuuh bgt, lebih terasa jauh krn naek angkutan umum yg berenti2 nyari penumpang. Udah mati gaya di Elf, tidur ga nyenyak karena banyak ngelewatin jalan jelek. Sepanjang perjalanan ke Sumur, elf ngangkut semua penumpang, ampe penuh sesak, ampe anak2 SD duduk di atep, ampe bebek, ayam, & pupuk juga ada di dalem elf. Baunya, luar biasa! hahahahahha Oia Elf yg kami naeki ternyata ga sampe sumur, cm sampe pasar panimbang, kami disuruh nyambung elf laen yg ke sumur. Gpplah sekalian numpang pipis di masjid di Pasar Panimbang.

Di jalan kami jg mikirin tempat nginep, bingung mau nginep dmn. Kami telpon manajemen pulau umang, mereka ada cottage kosong, tp harganya mahaaaaal.. Kalo ga salah, nginep 2 hari 1 malem utk bertiga sekitar 1,8 juta! males bgt (ngeluarin duitnya hehehehhe). Tp kami tetep mau ke umang walaopun ga nginep di cottage. Hasil tanya2 sm kenek elf kami tau kl di desa sumur ada penginepan.. Alhamdulillah



Nyampe sumur sekitar jam 1 kurang, kami brkt dr kos jam 7, dpt Elf hampir jam 8, hampir 5 jam duduk di elf.. Kami dianter oleh penduduk ke Wisma Sarang Badak punya Pak Edi. Harga kamar di Wisma Sarang Badak termasuk murah, aku lupa ratenya, tp sekitar 100rb per kamar.. Cerita punya cerita, ternyata Pak Edi ada paket wisata ke Pulau sekitar situ, termasuk Pulau Oar, dengan harga terjangkau.. Alhamdulillah :D Oiya ini nomor Telpon Pak Edi, yang punya Wisma Sarang Badak: +6281399165205

Hasil ngobrol2 sm Pak Edi, kami tau kl Pulau Umang ternyata milik pribadi, org ga bs dengan bebas pake fasilitas atau sekedar berkunjung di sana, termasuk penduduk sekitar. Akses masuk pulau terbatas, kita harus ngubungin pihak manajemen pulau umang utk bs masuk ke sana.

Abis makan siang, kami siap2 ke Umang, krn sdh ditunggu sama manajemen Pulau Umang. Kalo bagi yg ga nginep di cottage milik Pulau Umang, manajemen ada paket liat2 sekitar pulau, 1 orang 100rb, pdhl cm dikasih softdrink & jalan2 liat2 pulau.. gpp deh yg penting dah foto2 di sana :p. Fasilitas di Pulau Umang emg bagus, mereka punya banyak cottage, sebagian cukup terawat, walopun sebagian lainnya keliatannya ga terlalu terawat. Pulau Umang cocok utk HoneyMoon, kalo utk para backpacker ini terlalu mahal. Fyi kl dari dermaga ke pulau umang cm skitar 15 menit, pulaunya keliatan dr pinggir dermaga..

Setelah liat2 pulau umang, kami sama ke Pulau Oar, cm skitar 15 menit naek perahu dr Pulau Umang. Pemilik Pulau Umang & Pulau Oar adalah orang yang sama. Beda dengan umang yg full fasilitas, Pulau Oar adlh pulau tak berpenghuni, cm ada saung2 di pinggir pantai yg disediakan manajemen pulau umang. Di Pulau Oar kami snorkeling di pinggir pantai, berenang2, trus makan kelapa muda.. Mendekati sunset kami balik ke wisma..


Besok pagi, setelah sarapan kami balik ke Serang naek elf lagi..Begitulah ceritanya.
Cukup Sekian